Mimpi Buruk untuk Bisnis Properti Jika Harga BBM Naik

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan cost push inflation dimana kenaikan harga BBM berdampak pada kenaikan biaya produksi bangunan, termasuk ongkos kirim, atau transportasi.
“Kondisi ini kami sebut cost push inflation, inflasi yang terjadi karena adanya dorongan biaya yang menyebabkan kenaikan biaya produksi, salah satu faktornya ya kenaikan BBM dan bahan baku," tutur Ariansyah.
Meski demikian, Ariansyah mengaku optimistis pelaku usaha properti di Indonesia akan terus melakukan inovasi sehingga akan mampu menghadapi tantangan dan penyelenggaraan pembangunan rumah tinggal tetap berjalan dengan baik.
“Sekali lagi kami berterimakasih kepada pemerintah, keputusan tidak menaikan harga BBM akan menambah optimisme para pelaku usaha properti untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat," kata Ariansyah.
Sebelumnya, Harga BBM yang semula dikabarkan akan naik per 1 September 2022. Nyatanya pemerintah tidak menaikan harga BBM bersubsidi atau Non-Subsidi. (mar5/jpnn)
Kenaikan BBM bersubsidi atau non-subsidi akan berdampak negatif pada dunia bisnis properti.
Redaktur & Reporter : Ridwan Abdul Malik
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News