BPOM Diminta Transparan Saat Mengeluarkan Kebijakan Pelabelan Galon Polikarbonat
jabar.jpnn.com, DEPOK - Etilen glikol (EG) diduga menjadi penyebab kematian puluhan anak di Indonesia akibat gagal ginjal akut.
Hal itu membuat publik mengaitkannya dengan rencana diskriminatif BPOM, yang berupaya untuk mengeluarkan kebijakan pelabelan zat kimia Bisphenol A (BPA) pada air minum dalam kemasan (AMDK) galon berbahan polikarbonat.
Sedangkan kemasan plastik polyethylene terephthalate (PET) tidak dilabeli ‘Berpotensi Mengandung Etilen Glikol’.
Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansyah mengatakan melihat preferensi BPOM melakukan rencana pelabelan BPA ini menunjukkan sebuah kebijakan yang janggal dan diskriminatif.
Mengingat risiko bahaya Etilen Glikol dan Dietilen Glikol yang telah memakan banyak korban, lebih berbahaya dibanding BPA yang tidak pernah menimbulkan kematian.
“Saya melihat memang ada semacam kesenjangan, di mana kemudian saya melihat ini yang menjadi bagian dari pembenahan tata kelola BPOM, karena kan pada akhirnya publik juga yang jadi korban,” ucapnya, Jumat (28/10).
Alasan BPOM ingin menyematkan label BPA dalam galon isi ulang, lantaran diyakini dapat menyebabkan infertilitas, gangguan kesehatan pada janin, anak dan ibu hamil.
Meski begitu, BPOM belum melakukan penelitian spesifik terkait dampak tersebut.
BPOM diminta transparan dalam melakukan pelabelan, karena yang banyak menyebabkan kematian adalah Etilen Glikol bukan BPA.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News