Kisah Pedagang di Pasar Andir Bandung Dihantam Gempuran Marketplace

Selain itu, sensitivitas membaca tren juga menjadi strategi Entang dalam menjalankan usahanya. Entang kerap berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan untuk mengobservasi tren-tren pakaian di masyarakat.
“Sering kan, jalan ke mal, ke pasar, sambil lihat-lihat model pakaian yang lagi ramai (kekinian), terus kami coba bikin. Jadi pas ada yang datang, terus nanyain model, kami tidak ketinggalan, barang selalu ada,” jelasnya.
Strategi Entang dalam menjalankan usahanya terbilang sukses. Dalam hitungan rata-rata, Entang bisa menjual 70 hingga 100 lusin celana.
Omzet perharinya mencapai puluhan juta dengan harga celana per helai di rentang Rp90 ribu hingga Rp150 ribu.
“Alhamdulillah kang, pemasukan kotor itu bisa puluhan juta, tapi tidak menentu juga. Karena ada pelanggan yang pesan kami langsung kirim, bayarnya bisa nanti, karena sudah percaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, kehadiran marketplace tidak membuatnya alergi. Bahkan, ia memberikan keleluasaan kepada sejumlah karyawannya yang mencoba peruntungan dengan berjualan online.
Sejauh ini, Entang mengaku lebih merasa nyaman dengan sistem jual beli tatap muka alias offline.
“Lebih puas saja jualan online, lihat langsung yang beli, nampung keinginan pembeli, dan memang banyaknya orang yang ke sin ikan pengin lihat langsung dan sudah langganan juga,” ungkapnya.
Kisah Entang, pedagang celana jeans yang bertahan dagang offline dibanding jualan online di marketplace.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News