Polemik Kata ‘Maneh’ Berujung Pemecatan Guru, Hawe: Sikap Ridwan Kamil Tidak Proporsional

Jumat, 17 Maret 2023 – 15:20 WIB
Polemik Kata ‘Maneh’ Berujung Pemecatan Guru, Hawe: Sikap Ridwan Kamil Tidak Proporsional - JPNN.com Jabar
Budayawan Sunda Hawe Setiawan. Foto: Nur Fidhiah Shabrina/JPNN.com

jabar.jpnn.com, BANDUNG - Akademisi Universitas Pasundan (Unpas) Bandung sekaligus Budayawan Sunda Hawe Setiawan menyayangkan sikap pejabat daerah dan yayasan sekolah, yang mempermasalahkan penggunaan bahasa daerah dalam hal penyampaian kritik.

Hal ini merespons polemik penggunaan kata ‘maneh’ yang dipakai Muhammad Sabil (34), seorang guru SMK di Cirebon yang dipecat setelah menuliskan komentar di media sosial Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Kata Hawe, jangan sampai hanya karena penggunaan kata ‘maneh’ maka bisa menghilangkan rezeki seseorang.

“Untuk sekolah yang pecat guru sebaiknya dipikir lagi, jangan sampai timbul perasaan. Jangan sampai seorang guru kehilangan pekerjaan karena dia pakai bahasa Sunda di ruang publik, bahaya. Bukankah bahasa indung harus dipakai,” kata Hawe kepada JPNN.com di Bandung, Jumat (17/3).

Sementara itu, Hawe menilai penggunaan kata ‘maneh’ tidak selalu kasar. Kata itu lumrah dipakai di wilayah-wilayah tertentu di Jawa Barat.

“Bahasa itu akan berkembang oleh masyarakat, tidak bisa diatur satu kekuatan atau pihak tertentu. Kata aing kan kasar, tetapi bisa populer dan tanpa harus dirasakan kasar, juga tergantung wilayan mana Sundanya,” jelasnya.

“Di Priangan memang dianggap kasar, tetapi di luar ortodoks Priangan, seperti Kuningan, Cirebon, Subang, Banten itu beda dialeknya,” sambungnya.

Ia menjelaskan, undak usuh bahasa, perbedaan bahasa Sunda lemas dan kasar merupakan hasil adopsi kebudayaan Jawa.

Budayawan Sunda Hawe Setiawan menyayangkan penggunaan bahasa Sunda dalam menyampaikan kritik justru berujung pemecatan. Begini katanya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News