Peneliti BRIN Ungkap Masyarakat Sunda Paham Astrologi Sejak Dulu

Bahasannya cenderung tersebar dalam bentuk ungkapan-ungkapan metafora atau majas, perbandingan untuk menjelaskan tentang sesuatu hal.
Dalam manuskrip Sunda, telah dilakukan penelusuran hal-hal baru terkait pengetahuan astronomi.
Ia menerangkan, manuskrip tersebut ditulis pra-Islam sekitar abad 14-15 yang dilanjutkan dengan masa-Islam.
Ada tiga manuskrip pra-Islam yang terpilih, yaitu Siksakanda Karesian, Sewaka Darma, dan Bujanggamanik. Sedangkan naskah masa-Islam adalah Wawacan Pandita Sawang, Paririmbon, dan Gandasari. Dua naskah merupakan kelompok agama yakni satu naskah tasawuf, dan satu adalah pengetahuan lokal masyarakat Sunda (Paririmbon).
Masyarakat Sunda juga mencatat nama-nama benda langit yaitu sebagai berikut: (1) panonpoe, srangenge, matapoe, surya (matahari), (2) bulan, (3) béntang /bintang, (4) langit, (5) katumbiri (Pelangi), (6) mega (awan), (7) akasa, awang-awang (angkasa), (8) awun-awun (awan paling atas), (9) alak paul (langit tertinggi), (10) teja, tejamentrang (sinar), (11) kilat, (12) guludug, (13) gelap (Guntur,petir, geledek), dan (14) kingkilaban.
Kata Agus, belasan benda langit tersebut secara jelas terlihat dengan mata telanjang. Namun karena posisinya berada di atas, maka untuk melihatnya diperlukan gerakan kepala ke atas dengan cara mendongakan kepala.
Posisi benda-benda langit yang berada di atas dalam manuskrip digunakan untuk menempatkan makhluk-makhluk yang dianggap suci. Langit merupakan representasi ketinggian dan kesucian yang tak terjangkau.
“Sumbangan terpenting dunia astronomi dalam kehidupan manusia secara umum adalah adanya sistem penanggalan atau kalender. Sampai sekarang di lingkungan masyarakat dikenal empat macam tahun, yaitu tahun Saka, tahun Hijrah (Arab), tahun Jawa dan tahun Masehi.”
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan masyarakat Sunda sudah paham mengenai ilmu astrologi sejak zaman dulu.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News