Target Zero Stunting di 2023, Ini Upaya Pemprov Jabar

“Kami juga punya jejaring dengan 52 ribu posyandu di mana salah satu gebrakannya adalah penambahan meja di posyandu yang khusus menangani permasalahan stunting,” ucap istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil ini.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Jawa Barat Wahidin menambahkan, angka prevalensi stunting di Jabar hingga tahun 2021 mengalami penurunan cukup signifikan. Dari 31,5 persen pada 2018, angka stunting Jabar kini berada di angka 24,5 persen.
“Prevalensi stunting di Jabar tahun 2021 sebesar 24,5%, angka ini menurun cukup signifikan di banding tahun 2018 yaitu 31,5%,” ujarnya.
Kendari grafiknya menurun, namun angka prevalensi ini terbilang masih cukup tinggi, mengingat jumlah penduduk Jabar merupakan yang terbesar se-Indonesia.
“Meskipun Jabars secara persentase bukan yang tertinggi, namun secara angka absolut karena penduduknya terpadat se-Indonesia maka angkanya cukup tinggi,” jelas Wahidin.
Wahidin mengungkapkan, disparitass antarkabupaten/kota juga masih lebar. Meski tak memerinci nama daerahnya, katanya, ada dua daerah di Jabar yang angka prevalensi stunting sudah di bawah 14 persen. Namun ada juga empat daerah yang angkanya mencapai 30 persen.
“Disparitas antarkabupaten/kota masih cukup lenar artinya di satu sisi sudah baik, namun ada juga yang masih cukup tinggi,” sambungnya.
Untuk itu, diperlukan sosialisasi masif terkait program RAN Pasti di Jabar. Sosialisasi ini bertujuam mendapatkan komitmen dari para kepala daerah dan jajarannya dalam upaya penurunan stunting. (mcr27/jpnn)
Pemprov Jawa Barat terus berupaya menurunkan angka prevalensi stunting atau tengkes pada anak. Simak penjelasan Atalia Kamil.
Redaktur : Ridwan Abdul Malik
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News