BMKG: Musim Kemarau Lebih Panjang di Jawa Barat, Warga Diharapkan Waspada Kekeringan
Sedangkan 25 persen wilayah diprediksi akan memasuki musim kemarau sama dengan normalnya, dan 7 persen wilayah diprediksi akan memasuki musim kemarau mundur atau lebih lambat jika dibandingkan dengan kondisi normalnya. Sedangkan dua persen wilayah termasuk dalam tipe 1 musim.
Vivi melanjutkan pada musim kemarau tahun ini sebagian besar wilayah di Jawa Barat mengalami musim kemarau yang kering sebanyak 93 persen wilayah. Sedangkan tujuh persen wilayah lainnya mengalami musim kemarau normal.
"Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus, yaitu sebanyak 90 persen. Wilayah lainnya sebanyak 8 persen, diprediksi akan mengalami puncak musim pada bulan Juli, sedangkan 2 persen wilayah lainnya diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan September," tuturnya.
"Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang atau lebih lama dari biasanya," lanjutnya.
Pihaknya mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengoptimalisasi operasi waduk dan bendungan, mempercepat pembangunan atau rehabilitasi embung dan tampungan air mengantisipasi krisis air bersih dan hemat air.
Adapun untuk sektor pertanian, ia mengimbau petani menyesuaikan kalender tanam dengan menghindari puncak musim kemarau. Selain itu menggunakan varietas tahan kekeringan dan umur pendek.
"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lokal," pungkasnya. (mcr27/jpnn)
BMKG menyebut 66 persen wilayah Jabar mengalami kemarau lebih cepat, mayoritas kering dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Redaktur : Ridwan Abdul Malik
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News