Cilok dan Air Putih Jadi Bekal, Asep Tempuh Perjalanan Panjang Demi Sang Ibu
Perjalanan Asep masih panjang. Dari Cikaledong, ia harus menempuh sekitar 70 kilometer lagi untuk mencapai kampung halaman.
“Kalau jalan kaki terus, mungkin sampai rumah sekitar jam 9 pagi,” katanya.
Di dalam tasnya, Asep membawa pakaian, perlengkapan camping, hingga kompor kecil. Bekal Lebaran yang ia dapat pun jauh dari kata mewah.
“THR dari bos cuma dikasih cilok 50 biji sama sirup. Ini ciloknya saya bawa, kalau lapar ya dimasak,” ucapnya.
Selama dua tahun terakhir, hidup Asep berjalan dalam pola yang sama yaitu bekerja di kota, lalu pulang ke kampung. Namun belakangan, penghasilannya terus menurun.
“Sekarang sehari paling dapat Rp100 ribu. Setorannya Rp70 ribu, saya cuma pegang Rp30 ribu,” ungkapnya.
Ke depan, ia berencana mencoba peruntungan lain. Menjadi nelayan kembali menjadi pilihan, pekerjaan yang pernah ia jalani di beberapa daerah.
“Saya pernah jadi nelayan di Indramayu sama Jakarta. Mungkin mau coba lagi. Kalau enggak ada kerjaan, ya balik lagi jualan cilok,” katanya.
Asep mudik jalan kaki dari Bandung ke Ciamis karena tak punya ongkos. Sesekali nebeng truk, ia tetap melangkah demi pulang dan bertemu ibu.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News